`
Blog
  back
 
 
  Pendapat tentang lomba foto.
Monday,7 January, 2008    viewed : 312
 

Lomba foto adalah salah satu cara untuk memperoleh apresiasi dan publikasi terhadap foto yang kita buat. Bentuk publikasi lainnya dapat berupa pameran foto, milis fotografi, website personal, buku fotografi, majalah/koran, dsb. Semua publikasi tersebut memiliki impactnya masing-masing terhadap tujuan branding nama sang fotografer.

Kemudian kenapa lomba foto menjadi berbeda di bandingkan media publikasi lainnya? mungkin karena lomba foto akan memberikan impact lebih kuat bagi branding nama dengan unsur kompetisi di dalamnya. Kompetisi adalah bagian untuk mempertahankan kreatifitas dan motivasi positip dalam menjalani fotografi. Selain itu, cara ini cukup efektif dan relative lebih murah dibandingkan cara lainnya. Cara publikasi untuk branding yang diinginkan merupakan masalah pilihan personal, hasil dari pilihan itu pun berbeda-beda tergantung bagaimana setiap orang berusaha menjalaninya.

Berikut beberapa pengalaman saya ketika memilih mencoba berpartisipasi pada lomba foto.

1. Sebelum mencoba:
Ketika menekuni hobi ini belum terpikir menjadikan lomba foto sebagai salah satu sarana untuk mempublikasikan diri atau karya foto. Saat itu, saya selalu menolak ajakan teman-teman untuk berpartisipasi pada lomba foto. Alasan yang saya pakai biasanya dengan mengatakan:
"ah.. males ngak punya foto bagus",
"ah.. males takut kalah",
"nanti, belum percaya diri soalnya",
dan sebagainya.

2. Mencoba pertama kali:
Akhirnya tergoda juga mencoba walau belum berhasil menang. Lalu saya mencari alasan pembenaran dengan mengatakan:
"saya belum beruntung",
"yang menang fotonya biasa saja, foto saya lebih bagus sebenarnya",
"kalau fotonya cuma gitu, saya juga bisa",

"ah..jurinya tidak kompeten",
"ah..lombanya tidak kredibel", dan sebagainya.

3. Mencoba beberapa kali dan belum pernah menang:
Setelah terus mencoba dan ternyata belum pernah menang, saya mencari alasan pembenaran dengan mengatakan:
"saya memang lagi sial, padahal foto saya bagus-bagus",
"ah..ngapain menang lomba foto, yang pentingkan fotonya bisa menghasilkan duit",?
"males ah..yang menang itu-itu saja, mereka cuma liat nama besar",
"yang menang teman-temannya doang",
"jurinya sentimen",
"lomba foto ngak ada apa-apanya",
dan sebagainya.

4. Menang pertama kali:
Akhirnya bisa menang, saya mencari alasan-alasan untuk menjawab pertanyaan teman-teman misalnya:
"ah..Cuma kebetulan",
"ngak tau, kok bisa ya? padahal fotonya jelek",
"kok bisa ya? padahal banyak foto lain yang lebih bagus",
"lombanya memang bagus, jurinya kredibel",
dan sebagainya

5. Menang beberapa kali:
Setelah menang pertama kali, kemenangan seolah menjadi candu yang ingin terus dinikmati. Yang terjadi: bayangan hadiah trofi, mendali, duit dan sebagainya selalu terngiang dikepala. Berbagai ekspose di koran, majalah,dan website untuk kebanggaan. Berbagai gelar di anugerahkan rekan-rekan mulai master, maestro, jagoan dan lain-lain.

6. Ketika sudah mulai tidak menang lagi:
Saya harus mencari alasan lagi dengan mengatakan:
"ah capek.. lombanya gitu melulu",
"ah..sudah kasi yang lain kesempatan",
"bosen dengan lomba, nyari hal lain dulu", dan sebagainya.

Setelah sekian lama saya jadi bingung, setelah dipikir hampir sebagian besar yang saya pikir dan katakan itu adalah penolakan terhadap realitas, membohongi realitas dan berusaha mencari pembenaran bagi diri saya sendiri

Dari fase-fase menjalani lomba foto tersebut ternyata ego memainkan peranan sangat penting, karena jika salah mengelola justru bisa menghancurkan diri sendiri. Pada prinsipnya, jalani saja dan berani mencoba karena kedewasaan dalam melakukan sesuatu hanya bisa diraih dari pengalaman, pengetahuan, dan pengendalian ego kita sendiri.

 

 
Share this blog  
Share on Facebook Share on Twitter Email
 
All images and web content © 2008 - 2010 Andi Sucirta. All rights reserved.