Perkembangan fotografi di Bali beberapa tahun terakhir ini tampak luar biasa, hal ini bisa dilihat dari semakin banyaknya pemakai kamera serta tumbuhnya banyak even dan komunitas fotografi. Sebagai gambaran, klub foto yang dulunya hanya satu di era tahun 80 an kemudiaan berkembang pesat menjadi sekitar 10 komunitas hingga awal tahun 2010 ini. Beberapa diantaranya bahkan tercatat beranggotakan hingga seratusan orang. Klub-klub tersebut umumnya terbentuk setelah booming fotografi digital dan maraknya komunitas fotografi dunia maya semenjak tahun 2000. Saat ini, jejaring sosial banyak juga berperan dalam mendekatkan siapa saja dengan fotografi, bukan saja sebagai media komunikasi verbal tetapi juga komunikasi visual untuk berbagai tujuan
Secara kuantitas memang terjadi perkembangan pesat, apakah kemudiaan di barengi dengan perkembangan secara kualitas? Prestasi fotografer Bali yang secara konsisten bisa meraih penghargaan fotografi di tingkat nasional dan internasional mungkin bisa menjadi salah satu jawaban. Namun hal tersebut belumlah cukup untuk menjawab pertanyaan diatas. Berbeda dengan kuantitas, perkembangan fotografi secara kualitas sedikit sulit dinilai karena menyangkut ke isi atau materi fotografi. Untuk memperoleh jawaban pertanyaan tersebut, ada baiknya kita melihat sekilas perjalanan fotografi di Bali dari dulu hingga sekarang.
Fotografi dari era Hindia Belanda hingga tahun 80 an belum mengalami perkembangan berarti, pemanfaatan foto untuk kepentingan citra-citra kepariwisataan Bali masih mendominasi seperti jasa pemotretan di studio dan objek wisata, untuk postcard, buku, majalah dan brosur panduan wisata. Salah satu catatan penting yaitu ketika sekitar tahun 1912 seorang dokter Jerman Gregor Krause yang bekerja untuk pemerintah kolonial Belanda mendokumentasikan objek-objek tentang Bali yang kemudiaan diterbitkan dalam sebuah buku pada tahun 1920. Apa yang dilakukannya kala itu merupakan bagian dokumentasi Bali yang memegang peranan utama dalam promosi kepariwisataan di Bali. Krause banyak mendokumentasikan keindahan bentuk tubuh orang Bali, alam dan kemeriahan upacara dalam citra foto yang indah dan menawan. Dokumentasi foto juga banyak dibuat oleh seniman Arthur Fleischmann pada tahun 1930 dan seorang fotografer keturunan Tionghoa Auw Kok Heng tahun 1930 sampai 1970. Pemanfaatan fotografi lainnya yaitu untuk kepentingan media seiring dengan mulai berkembangnya industri media di Bali sekitar tahun 1950.
Tidak banyak catatan yang berkenaan dengan fotografi di Bali hingga tahun 1980. Kemudian baru pada tahun 1982 beberapa fotografer yang berdomisili di Bali mulai mempelopori terbentuknya sebuah wadah berkumpul yang disebut Perhimpunan Fotografer Bali. Resmi terbentuk tahun 1984, kiblat organisasi ini yaitu pada Federasi Perkumpulan Senifoto Indonesia dengan kegiatan salonfoto (pameran foto) yang diselenggarakan secara rutin setiap tahun. Objek-objek foto yang diangkat saat itu masih banyak tentang keindahan alam, budaya dan kegiatan manusia di Bali yang dikemas dalam gengre piktorial Asia (piktorial - indah menawan seperti lukisan). Selain untuk kepentingan media, salonfoto dan kepariwisataan maka tujuan pemakaian foto pada masa itu belum banyak berubah.
Kemudiaan, bagaimanakah kondisi fotografi di Bali saat ini? Bidang fotografi yang dicakupnya sudah semakin luas sejalan dengan perkembangan pariwisata dan perubahan lingkungan sosial budaya di Bali. Pemotretan wedding dan prewedding, pemotretan interior dan eksterior villa, pemotretan produk, pemotretan makanan, pemotretan travel dan stock photo merupakan jenis-jenis pemotretan yang paling banyak dikerjakan. Bidang fotografi tersebut digemari karena menjanjikan peluang yang lebih menguntungkan secara ekonomi. Selain bidang komersial tersebut, peminat salonfoto juga tetap eksis seperti masa-masa sebelumnya.
Secara garis besar belum banyak yang berubah dari segi isi untuk kepentingan apa fotografi itu dipergunakan. Muncul harapan ketika teknologi informasi utamanya internet sudah semakin mudah dan murah untuk diakses, informasi fotografi mengalir deras kepada siapa saja yang menginginkan. Fotografer di Bali semakin terbuka untuk mengenal dan mencoba gaya atau gengre fotografi lain yang dulunya mungkin tidak terlalu populer seperti portrait, fashion, abstrak, fine art, hingga kontemporer. Eksperimen dari segi teknik, komposisi, sudut pemotretan juga telah berkembang pesat.
Ditengah banjir informasi tersebut, tidak jarang banyak orang yang kehilangan arah dan tenggelam pada wacana fotografi sebagai sebuah teknologi semata. Hal yang mungkin sulit dihindari ditengah gencarnya arus informasi dan kepentingan bisnis industri fotografi. Jangan heran jika saat ini kita masih lebih sering mendengar perdebatan tentang merek kamera dibandingkan dengan membahas esensi fotografi. Dibalik perubahan teknologi fotografi yang seolah semakin memanjakan para penggunanya, beberapa komunitas seperti kamera lubang jarum dan lomography tetap bertahan di Bali. Walau jumlah penggemarnya sedikit jika dibandingkan dengan pemakai kamera digital, keberadaan mereka sangat penting untuk mengingatkan kita tentang esensi dalam berkarya. Manusia dengan akal dan pikirannya merupakan hal yang paling utama, sedangkan kamera merupakan alat bantu dalam berkarya.
Kembali ke pertanyaan awal pada tulisan ini, apakah fotografi di Bali sudah mengalami perkembangan secara kualitas isi? Menurut pendapat saya, posisi kita saat ini yaitu sedang menuju kearah perkembangan dan peningkatan kualitas tersebut. Tanda-tanda kearah perubahan itu sudah mulai terlihat seiring dengan semakin baiknya arus informasi dan terselenggaranya even fotografi yang makin variatif. Agar tetap berjalan pada rel yang kita inginkan maka kedepan beberapa hal perlu mendapat perhatiaan yaitu: Pertama, menjaga kegiatan fotografi seperti pameran foto, diskusi, seminar, workshop dan lomba foto untuk bisa dilaksanakan secara konsisten. Kedua, kerjasama dan mensinergikan berbagai kegiatan fotografi di Bali oleh seluruh pelaku fotografi lokal, nasional maupun internasional. Ketiga, terus mengali nilai budaya lokal sebagai nilai lebih dan pembentuk karakter fotografi Bali.
Bidang fotografi komersial yang menjadi favorit di Bali saat ini tidak hanya menuntut seorang fotografer untuk mampu bersikap profesional dalam memenuhi kebutuhan kliennya, tapi dia juga harus mampu mengekspresikan idealisme dan kreatifitasnya dalam berkerja. Mengerjakan proyek-proyek fotografi personal dapat mengasah kemandiriaan guna membentuk karakter berkarya sebagai ciri khas masing-masing fotografer dalam menunjukkan eksistensinya.
Menyangkut bidang fotografi lain kedepan, fotografi kontemporer dengan pilar demokratik, kebebasan dan kesadaran berekspresi menjanjikan ruang yang luas bagi fotografi untuk bisa masuk dalam ranah seni rupa. Berpikir kreatif dan inovatif serta kekuatan konsep dari segi isi, teknik maupun eksplorasi medium sangat dibutuhkan dalam berkarya di bidang ini. Selain bidang tersebut, fotografi jurnalistik dan dokumenter juga harus mendapat perhatian yang lebih serius oleh berbagai pihak di Bali terutama oleh industri media. Kecenderungan kedepan menunjukan bahwa bidang ini bukan hanya diperlakukan sebagai pelengkap tulisan ataupun dokumentasi biasa, lebih dari itu foto jurnalistik dan dokumenter merupakan bagian karya seni , medan kreatif dan pilar perubahan dengan berita yang disampaikannya kepada khalayak.
Akhirnya bagaimana fotografi di Bali kedepan? Jawabannya ada pada kesungguhan para pelaku-pelakunya dalam menjaga kemajuaan yang telah diraih agar tetap berjalan pada rel yang benar. Bali jangan hanya menjadi objek dari fotografi, Bali sendiri harus bisa menjadi subjek fotografi.
Tulisan oleh IB Andi Sucirta dimuat pada rubrik Budaya hariaan Radar Bali (Jawa Pos Grup) Minggu, 18 Juli 2010.
Referensi dari berbagai sumber.
Topik yang lain:
- Membingkai Pesona Legong.
- Filosofi Bali Photography. |