`
Blog
  back
 
 
  Membingkai Pesona Legong
Tuesday,20 July, 2010    viewed : 206
 
Penemuan fotografi dengan kemampuannya merekam realitas visual dengan tingkat presisi yang tinggi pada abad ke 18 sempat memunculkan kecemasan para pelukis. Komentar seorang pelukis Perancis Paul Delaroche yang banyak dikutip,“from today painting is dead” merupakan salah satu komentar yang menunjukan kecemasan tersebut. Nyatanya apa yang dikatakannya saat itu tidak terjadi hingga saat ini. Sebaliknya, kehadiran fotografi telah membangkitkan inspirasi bagaimana realitas kemudiaan digubah oleh seniman sehingga memunculkan aliran-aliran baru dalam seni lukis, beberapa diantaranya bahkan memanfaatkan elemen fotografi dalam pendekatannya.

 

Berbeda dengan kemajuaan yang dicapai seni lukis dengan kehadiran fotografi, maka fotografi sendiri sejak kelahirannya mengalami perseteruan yang amat panjang tentang kehadirannya sebagai media ekspresi seni rupa. Butuh waktu yang cukup lama sejak pertama kali Niepce dan Daguerre pada tahun 1827 meramalkan bahwa fotografi akan menjadi seni termuda yang dilahirkan jaman hingga bisa diterima saat ini.

 

 Walau tidak sama persis seperti dahulu, tantangan yang sama saya rasakan ketika galeri dan seniman foto mulai berani memamerkan karya-karyanya. Bulan Juni yang baru lalu ini sebuah pameran foto bertajuk Legong Legacy karya fotografer I Ketut Widiatmika dihelat oleh Bentara Budaya Bali. Galeri sekelas Bentara Budaya tentunya tidak main-main jika kemudiaan mau memajang karya seni fotografi, apalagi pameran di Bali merupakan salah satu rangkaian dari pameran keliling di tiga kota besar lainnya yaitu Yogyakarta, Jakarta, dan Surabaya. Dalam pamerannya kali ini, Widiatmika memilih legong sebagai subjek matter. Legong sebagai tarian dengan kualitas estetis yang sudah sangat dikenal masyarakat, oleh Widiatmika dieksplorasi dan diekspresikan dengan pendekatan personalnya sebagai seorang seniman foto. Karya-karya yang dipamerkannya tidak hanya menyajikan gerak penari Legong dalam pakem atau  aturan formal,  tetapi oleh nya kemudian direkonstruksi menjadi karya-karya berkonsep melalui pendekatan estetis salonfoto.

 

Sebagai contoh, pada beberapa karyanya, Widiatmika memilih metode pose klasik  pada beberapa model penari legongnya. Beberapa diantaranya bahkan tidak umum  pernah dilihat atau dibuat dengan media fotografi. Maka yang terjadi, khalayak apresiator dihadapkan pada pengalaman visual baru yang kemudian mereka bandingkan dengan memori visual yang ada dalam pikirannya.  Walau sebenarnya metode pose klasik tersebut merupakan hal yang sudah lumrah dan sah-sah saja dilakukan pada seni lukis, tidak sedikit dari para seniman merasakan hal yang sama seperti yang dirasakan khalayak awam tersebut. Hal ini mungkin terjadi karena apa yang ada dibenak mereka  bahwa fotografi yang mereka kenal , masih hanya sebatas representasi  objektif atau pembekuan waktu sebuah rangkaian peristiwa. Sehingga, ketika disuguhi foto-foto ekspresi tersebut, tidak sedikit khalayak apresiator yang bertanya-tanya apakah ini foto atau karya seni sama dengan karya seni rupa lainnya.

 

 Apa yang dilakukan Widiatmika dengan konsep berkarya dan kebebasan berekspresinya jelas merupakan bagian dari karya seni. Di era kontemporer saat ini, aturan baku Legong oleh Widiatmika direkonstruksi untuk memunculkan pemaknaan bagi para pembacanya. Hardiman, kurator pameran ini dalam salah satu kalimat pengantarnya mengatakan “Sebagai representasi, karya fotografi Widiatmika tidak hadir sebagai efek representasional karena sejumlah tanda dalam karyanya tidak menjelaskan atau merefleksikan obyek dengan cara pencerminan langsung”. Jadi merupakan hal yang wajar juga jika  kemudiaan foto ekspresi disajikan Widiatmika dalam pameran tersebut memunculkan bacaan makna yang beragam dari mereka yang sudah menyaksikannya.

 

Fotografi digital telah memberikan ruang kreatif yang semakin luas untuk fotografer dalam menghasilkan karya-karyanya. Termasuk bagi Widiatmika yang banyak menghasilkan karya foto yang dipamerkannya dengan teknik menggabung-gabungkan foto  atau dalam fotografi dikenal dengan istilah montase. Penggabungan tersebut dilakukan secara cermat agar terlihat natural dan logis baik dari komposisi, sudut pemotretan maupun pencahayaan. Proses digital imaging juga telah memudahkan nya melakukan kegiatan post processing seperti merubah foto menjadi hitam putih dari berwarna, mengatur tonal dan kontras gambar.

 

Perkembangan fotografi digital saat ini menawarkan kemudahan-kemudahan dalam teknik yang memungkinkan  fotografer bisa lebih berkonsentrasi pada konsep dan kreatifitas. Tidak ada batasan lagi bagi seorang fotografer dalam berkarya, apakah naturalis realis, ekspresionis, abstrak, instalasi dan sebagainya. Pandangan bahwa fotografi hanya berkaitan dengan rekaman objektifitas tidak sepenuhnya benar. Karya fotografi dengan nilai seni juga merupakan bagian ekspresi subjektif fotografer.

 

Maka menyimak apa yang telah dilakukan Widiatmika semakin  menegaskan bahwa fotografi merupakan bagian media ekspresi seni rupa. Diapresiasinya pameran foto I Ketut Widiatmika pada beberapa galeri di kota-kota besar Indonesia menunjukan bahwa fotografi sudah bisa diterima sebagai bagian seni rupa. Kita mungkin belum bisa berbicara jauh tentang bagaimana seniman fotografi akan memperoleh hasil dari  penjualan karya-karyanya, minimal apresiasi positip dari berbagai kalangan bisa meningkatkan daya jual dan daya tawar hasil karya seni fotografi kedepannya. Kita tidak akan mengetahui  hasil sebuah tindakan kalau tidak pernah mencobanya,  seniman foto harus terus melakukan proses kreatifnya dan di sisi lain galeri-galeri seni harus berani memamerkan dan memasarkan karya seni fotografi.

 

Tulisan oleh IB Andi Sucirta dimuat di rubrik Budaya hariaan Radar Bali (Jawa Pos Grup) Minggu, 18 Juli 2010.

 

Referensi dari berbagai sumber.

 

Topik yang lain:

- Fotografi Bali Masa Kini.

- Filosofi Bali Photography.

 
Share this blog  
Share on Facebook Share on Twitter Email
 
All images and web content © 2008 - 2010 Andi Sucirta. All rights reserved.