`
Blog
  back
 
 
  Seri foto Perang Pandan - The bloody offerings
Saturday,9 January, 2010    viewed : 935
 

Kemampuan menahan rasa nyeri sudah dijadikan salah satu media untuk menunjukkan keteguhan hati di berbagai belahan dunia. Ada perayaan Ashura di Irak dan Irak, Thaiphusam di Malaysia dan India, Fire sacrified di Cina, dan lainnya. Walau tujuannya berbeda, satu hal yang sama dari perayaan tersebut yaitu bahwa mereka menunjukkan keteguhan hati dengan kemampuan menahan rasa nyeri yang mereka timbulkan pada tubuh mereka sendiri. Mulai dengan cara memukul-mukulkan senjata tajam, menusukkan jarum, meloncat keapi, dan sebagainya.

 

Di Indonesia, cara seperti ini juga bisa dijumpai diberbagai daerah seperti Debus di Jawa Barat, Tatung di Singkawang, Perang Pandan di Bali, dan lain-lain. Khusus untuk Perang Pandan atau Mekare-kare, ritualnya tergolong unik, karena rasa sakit pada tubuh bukan ditimbulkan oleh mereka tetapi melalu proses pertarungan antar dua orang bersenjatakan daun pandan berduri. Daun pandan dengan ratusan duri pada kedua sisinya merupakan senjata yang sangat efektif dalam memunculkan rasa nyeri bahkan hingga luka gores yang mengeluarkan banyak darah. Jika anda merasa nyeri ketika disuntik dengan satu jarum oleh dokter, bayangkan nyerinya jika kemudian ditusuk ratusan bahkan ribuan duri daun pandan.

 

Ritual ini dilakoni oleh laki-laki desa Tenganan, Karangasem, Bali, mulai dari anak-anak hingga dewasa. Mereka melakoninya bukan tanpa alasan, ritual tersebut bertujuaan untuk  menunjukkan keteguhan, ketaatan dan keikhlasan memuja Tuhan dalam perwujudan sebagai Dewa Indra yang dalam mitologi Hindu dikenal sebagai dewa perang.  Masyarakat Tenganan melakukan pemujaan dalam bentuk bhakti atau ngayah dalam ritual perang pandan.

 

Keberanian dan kemampuan menahan rasa nyeri merupakan dua hal yang mutlak dibutuhkan untuk bisa berpartisipasi dalam ritual ini. Tiap laki-laki yang hendak turut serta dalam perang pandan menyiapkan dirinya dengan daun pandan berduri dengan panjang sekitar 30 cm sebanyak 4-8 lembar yang diikat dengan seutas tali. Mereka bertarung dengan mengenakan kelengkapan pakaian tradisional Bali namun dalam kondisi bertelanjang dada. Untuk proses bertahan mereka akan dilengkapi dengan tamiang yang terbuat dari anyaman ata (sejenis rotan).

 

seri foto bloody offerings - Tenganan, Bali by Andi Sucirta

Gambar 1. Dua petarung terjatuh di tanah.

 

Masing-masing peserta menentukan lawannya masing-masing, tidak ada aturan yang baku mengenai tata cara pertarungan tersebut. Pertarungan dilakukan secara bergilir dengan diawasi oleh para tetua atau pemangku adat. Setiap peserta diperkenankan untuk saling menyerang dengan cara mengeret padan berduri pada bagian tubuh mulai dari kepala hingga pinggang. Selain dengan cara mengeretkan pandan dan menangkis dengan tamiang, tindakan bertarung dengan cara lain seperti memukul atau menendang tidaklah diperkenankan.

 

Sering menjadi pertanyaan banyak orang bagaimana sebuah pertarungan yang melibatkan “emosi” bisa dikatakan dilakukan dengan damai? Jawabanya ada pada pertarungan itu sendiri, pertarungan tidak bertujuan untuk mencari pihak yang menang ataupun kalah. Tetapi pertarungan merupakan bagian bakti mereka untuk menyatakan  ketaatan dan kesungguhan hatinya dalam memuja Tuhan. “Emosi” terkendali merupakan pemacu adrenalin untuk memompa semangat bertarung yang kemudian akan diakhiri klimaks perasaan bahagia dan damai karena telah melakukan bhakti.

 

Ritual perang pandan diakhiri dengan acara megibung atau makan bersama dilokasi ritual berlangsung. Beberapa orang juga akan mulai membagikan ramuan obat tradisional yang terbuat dari cuka, kunyit dan lengkuas. Ramuan tersebut akan dioleskan pada luka-luka akibat tusukan, masyarakat mempercayai bahwa ramuan tersebut akan mempercepat proses penyembuhan luka. Para petarung satu persatu kembali ke rumahnya masing-masing untuk bersiap melakukan persembahyangan dan ritual lain dalam rangkaian acara Usaba Sambah.

 

Meayunan - seri foto bloody offerings - tenganan, bali by andi sucirta

Gambar 2. Meayunan sebagai salah satu rangkaian upacara Usaba Sambah.

 

Ritual perang pandan hanya merupakan bagian kecil dari adat istiadat dan kegiatan religius yang dilakoni masyarakat Tenganan yang hingga saat ini menjaga dengan sangat baik apa yang diwariskan para leluhurnya. Mereka bertahan dalam kesederhanaan dan kebersahajaanya ditengah arus moderinisasi. Seri foto Perang Pandan - The Bloody offerings ini merupakan bagian kecil saja dari kekayaan budaya dan religi masyarakat Tenganan yang saya coba rekam dalam pandanga mata saya.

 

Seri foto Perang Pandan - The Bloody offerings selengkapnya.

 
Share this blog  
Share on Facebook Share on Twitter Email
 
All images and web content © 2008 - 2010 Andi Sucirta. All rights reserved.