`
Blog
  back
 
 
  Penjuriaan Cetak Warna Salonfoto Indonesia XXIX 2008-Malang
Friday,31 October, 2008    viewed : 515
 

'Selalu ada waktu untuk pertama kali', begitulah pikiran yang terlintas dibenak saya ketika dipercaya untuk menjadi juri pada Salonfoto Indonesia (SFI) 2008 ini. Setiap perjalanan tentu akan dimulai dengan langkah pertama, langkah inilah yang akan menentukan langkah-langkah berikutnya. Bagaimana kita mempersiapkan diri untuk memulai melangkah juga akan mempengaruhi irama langkah selanjutnya. Berikut sedikit uraian tentang awal mula saya dipilih menjadi salah seorang juri SFI hingga pelaksanaan penjuriaan kategori Cetak Warna tanggal 30 Oktober 2008 di Malang, Jawa Timur.

 

Mencoba mengambil kepercayaan.

Keputusan untuk memasukkan saya sebagai salah seorang calon juri SFI 2008 di Malang, saya dengar sekitar pertengahan tahun 2008. Beberapa teman dari panitia pelaksana SFI dari Malang Photo Club (MPC) dengan nada bercanda menyampaikan bahwa saya diminta kesediaannya untuk menjadi salah seorang juri SFI untuk kategori Cetak Warna. Ketika itu mereka bertandang ke Bali untuk menghadiri hajatan salah seorang rekan fotografer di Perhimpunan Fotografer Bali (PFB). Saya tidak menanggapi serius guyonan tersebut, karena sepengetahuan saya, saya tidak masuk dalam usulan sebagai salah satu bakal calon juri SFI dari PFB.

 

Selang beberapa lama saudara Yuddy Wijaya dari panitia pelaksana kembali menghubungi saya via telepon. Kali ini saudara Yuddy menegaskan kembali mengenai perihal susunan bakal calon juri SFI 2008. Pemberitahuan tersebut kemudian berlanjut dengan datangnya surat resmi tentang bakal susunan calon juri dan surat pernyataan kesediaan menjadi juri SFI dari panitia pelaksana. Pada awalnya sempat muncul keraguan karena saya tidak tahu persis apa yang menjadi pertimbangan panitia pelaksana maupun FPSI untuk memasukkan nama saya sebagai salah seorang calon juri SFI. Walau demikian, saya selalu berusaha berpikir positip tentang segala hal, dalam hati saya berpikir, mungkin mereka menganggap bahwa saya memiliki kemampuan tersebut. Selang beberapa hari, saya kemudiaan menyatakan kesediaan. Alasannya sederhana, karena kalau saya tidak mencoba mengambil kepercayaan yang diberikan, apakah kemudian orang bisa mengetahui saya memiliki kemampuan itu atau tidak. Untuk selanjutnya biarlah orang yang menilai setelah kita mencoba mengambil tanggung jawab tersebut.

 

Kepercayaan sebagai sebuah tanggung jawab. 

Mendapatkan sebuah kepercayaan butuh sebuah tanggung jawab dalam pelaksanaannya. Atmosfer penjuriaan SFI tidak begitu asing bagi saya, karena pada SFI tahun 2006 di Bali saya berkesempatan bekerja sebagai panitia pelaksana. Semenjak aktif sebagai peserta SFI dan salon internasional mulai tahun 2005, saya sudah tertarik dengan berbagai referensi tentang SFI dan FPSI. Berbagai hal tentang organisasi fotografi dunia seperti Photographic Society of America (PSA), Royal Photographic Society (RPS), dan Federation Internationale De L'art of Photographique (FIAP) juga saya pelajari. Tidak ketinggalan kegiatan favorit saya untuk memperoleh katalog salon atau pameran dan referensi tentang organisasi fotografi dan mekanisme penjurian/pameran yang saya kumpulkan untuk memperluas pengetahuan. Alasan saya melakukan hal tersebut yaitu untuk mengetahui 'jiwa' dari organisasi dan kegiatan yang mereka lakukan. Karena jika anda ingin berhasil dan memperoleh kemajuan maka anda harus menemukan 'jiwa dan semangatnya'.

 

Semangat untuk kemajuan dan perubahan.

Jauh-jauh hari sebelum pelaksanaan SFI, panitia pelaksana telah mengemakan beberapa perubahan guna melaksanakan SFI sesuai dengan ketentuan yang digariskan oleh FPSI. Hal ini ditempuh dengan mencoba menampilkan wajah-wajah baru dalam susunan dewan juri dengan harapan dapat menghadirkan suasana yang baru pula.

 

Penjuriaan juga dipersiapkan dan dirancang untuk dilaksanakan dengan menampilkan foto peserta satu persatu pada kotak penjurian untuk seluruh tahapan penjuriaan. Ini dilakukan panitia pelaksana sebagai sebuah penghargaan bagi semua peserta, baik bagi mereka yang fotonya lolos (accepted) maupun tidak (rejected). Penjurian dilaksanakan terbuka untuk umum guna memberi kesempatan yang seluas-luasnya bagi peserta untuk ikut merasakan atmosfer penjuriaan. Penjuriaan terbuka juga dilakukan dengan tujuan untuk menghindari kecurigaan-kecurigaan 'kecurangan' tentang mekanisme penjurian.

 

Awal penjuriaan: menyamakan persepsi.

Hal krusial pertama dalam penjuriaan SFI yaitu tahapan untuk menentukan foto yang layak pamer atau tidak (accepted atau rejected). Pada tahap ini setiap juri harus memiliki pemahaman yang sama untuk dapat menilai foto secara obyektif guna menentukan foto yang layak pamer. Tahap ini bukanlah tahapan untuk mencari pemenang sehingga subyektifitas sebisa mungkin disingkirkan. Beberapa kesalahpahaman sering terjadi pada tahapan ini, prasangka tersebut akan semakin kuat muncul jika persentase accepted sangat rendah. Karena menurut logika peserta, foto-foto yang diikut sertakan dalam SFI tentunya sudah merupakan foto-foto terpilih dari koleksi foto yang mereka miliki.

 

Tahapan pertama penjuriaan di kategori Cetak Warna berjalan dengan lancar dan baik. Penjurian kemudian dilanjutkan ke tahapan-tahapan berikutnya, disini selera juri sudah mulai bermain dengan tetap berpegang pada obyektifitas tentunya. Hal krusial berikutnya yaitu pada tahapan penentuan 18 foto yang berhak meraih mendali atau penghargaan. Tahapan ini akan semakin kompleks jika tidak ada foto yang betul-betul menonjol untuk bisa keluar untuk menduduki posisi pertama.

 

Catatan penting dari penjuriaan kali ini yaitu beberapa foto pada tahapan pertama yang terlihat bagus saat display pada kotak penjuriaan ternyata memiliki kualitas cetak serta olahan foto yang kurang baik. Hal ini terlihat jelas ketika foto digelar dimeja untuk dilihat satu persatu dan dibandingkan dari jarak yang lebih dekat. Pada tahap ini foto yang tadinya memiliki potensi untuk masuk 18 foto terpilih mulai berguguran satu persatu. Beberapa foto juga terlihat masih 'salah kamar', foto-foto dengan nilai jurnalistik yang baik di kategori cetak warna mungkin bisa muncul dengan lebih baik dan tepat jika dimasukkan dalam kategori jurnalistik.

 

Akhir penjuriaan: idealisme yang tidak selalu bisa berjalan.

Tahapan yang paling alot dari penjurian Cetak Warna yaitu ketika menentukan foto-foto yang berhak meraih mendali dan penghargaan. Dewan juri (termasuk saya) saat itu memutuskan bahwa tahap akhir untuk menentukan para peraih mendali dan penghargaan dilakukan melalui proses diskusi dengan tujuan diperoleh hasil yang merupakan 'cerminan keinginan bersama'. Disinilah kemudian muncul sedikit masalah karena setiap juri dengan karakter, sifat , dan tujuannya masing-masing kemudiaan harus mengeluarkan sebuah hasil yang merupakan 'cerminan keinginan bersama'. Bayangkan berbagai hal harus bercampur aduk dalam proses ini: dominasi, selera, idealisme, teman, dan sebagainya. Dengan proses panjang sebuah keputusan harus diambil dengan dilandasi dengan keikhlasan untuk menerima walau terkadang harus mengorbankan idealisme masing-masing.

 

Catatan menarik kedua justru saya peroleh dari proses penjuriaan di kategori Jurnalistik. Walau penentuan foto peraih penghargaan dilakukan melalui proses diskusi, namun tahapan akhir penilaian terhadap 18 foto tetap dilaksanakan dengan sistem scoring terlebih dahulu. Hal ini dilakukan untuk melihat feeling masing-masing juri terhadap foto-foto yang mereka unggulkan. Setelah proses tersebut berjalan baru kemudiaan mereka berdiskusi untuk mengeluarkan hasil akhir yang kemudiaan dilanjutkan dengan proses scoring ulang sesuai dengan kesepakatan untuk memunculkan foto-foto peraih mendali. Disini terlihat lebih baik sehingga tidak ada kesan bahwa seorang juri harus 'memaksakan' pendapatnya.

 

Pelajaran untuk kemajuaan dan pendewasaan.

Terlepas dari beberapa kekurangan, secara keseluruhan proses penjuriaan SFI 2008 telah dilaksanakan dengan baik dan lancar. Sebuah hasil tentu tidak bisa memuaskan semua orang. Namun jika kita mengambil esensi dari berkarya dalam fotografi maka 'setiap foto memang memiliki waktu dan tempatnya masing-masing untuk bisa muncul'. Jika tidak saat ini, mungkin nanti, jika bukan di SFI mungkin pada ajang yang lain. Satu keyakinan yang selalu saya pegang yaitu 'foto yang bagus tetaplah bagus', anda hanya perlu mencari tempat dan waktu yang tepat untuk kemudian bisa memunculkannya.

 

Hiruk-pikuk penjurian SFI selalu menjadi fokus utama setiap kali penyelenggaraan SFI. Banyak hal justru terlupakan ketika setiap orang hanya berpikir untuk meraih pengghargaan. Yang lebih parah lagi ketika orang berpikiran penjurian itu obyektif hanya jika ada diantara fotonya yang accepted, meraih mendali atau pengghargaan. Saya dulu sering berpikir seperti itu, tapi lambat laun saya sadari itu adalah penghambat terbesar dalam meraih kemajuan. Hal terpenting dalam setiap kali penyelenggarannya yaitu SFI merupakan salah satu ajang untuk belajar guna memperoleh kemajuan dan pendewasaan berpikir sebagai seorang fotografer. Bukan saja dari penjuriaan SFI, anda dapat belajar banyak dengan mempelajari foto-foto pada katalog maupun pameran SFI. Menghadiri ajang SFI dapat juga menjadi tempat untuk saling mengenal sesama fotografer dari seluruh Indonesia, anda dapat berdiskusi, berbincang tentang segala hal yang berkaitan dengan fotografi dan event ini hanya akan anda temui setiap tahun sekali.

 

Terakhir, setiap orang yang terlibat dalam kegiatan SFI akan mengambil pelajarannya masing-masing. Mulai dari penyelenggara, panitia pelaksana, peserta, maupun juri. Apa yang mereka pelajari sekarang merupakan modal untuk mereka melangkah kedepan. Apakah mereka akan melangkah maju atau sebaliknya. Pelajaran yang diambil inilah yang nantinya menentukan bagaimana salonfoto ini akan berkembang ke arah kemajuan atau sebaliknya menuju kemunduran.

 
Share this blog  
Share on Facebook Share on Twitter Email
 
All images and web content © 2008 - 2010 Andi Sucirta. All rights reserved.